Mode Komunikasi Digital FT8

Pada kegiatan Special Call 8B276PN yang diselenggarakan oleh ORARI Lokal Pacitan dalam menyambut Hari Jadi Kabupaten Pacitan ke-276 Tahun 2021, salah satu mode komunikasi yang digunakan adalah FT8. Tulisan berikut memberikan gambaran kepada kita tentang FT8 tersebut. 


Mode Komunikasi Digital FT8

FT8 adalah mode komunikasi digital baru yang meramaikan dunia komunikasi amatir radio akhir-akhir ini. Walaupun sebelumnya sudah banyak sekali jenis komunikasi digital dan telegrafi elektronik lainnya, tetapi FT8 dengan cepat menjadi sangat populer saat ini. Mengapa bisa demikian ?

Diawali kondisi propagasi yang beberapa tahun belakangan ini sedemikian buruk, banyak operator menjadi frustrasi karena sulit sekali melakukan komunikasi DX. Mode phone sudah tidak mampu berbuat banyak, bahkan CW yang selama ini digadang-gadang lebih sakti dari phone karena dianggap satu-satunya mode yang mampu menembus propagasi buruk, ternyata harus menyerah juga.

Adalah Dr. Joe Taylor K1JT seorang astronom peraih penghargaan nobel , tertarik meneliti sains pulsar, yaitu sinyal/gelombang elektromagnetis dari objek luar angkasa. Taylor mulai memperlajari penerimaan sinyal lemah dengan menciptakan software yang mampu memilah sinyal lemah tersebut dari latar belakang noisenya. 

Sebagai pecinta Amatir Radio, Taylor kemudian mengembangkan pula software WSJT (Weak Signal Joe Taylor) bagi amatir radio yang awalnya ditujukan untuk komunikasi EME (Earth-Moon-Earth) dan Meteor Scatter. 

Hanya dengan melalui soundcard komputer, WSJT mampu membaca informasi sinyal ekstrim lemah yang berada dibawah level noise.

Semakin memburuknya propagasi di band HF, membuat banyak Amatir Radio meminta agar Joe Taylor juga mengembangkan WSJT pada band HF. Taylor menyanggupi dengan catatan QSO hanya berisi informasi dasar, yaitu callsign dan report saja. Sejak itulah mulai terdengar, dimana-mana di setiap band, nada-nada piano. JT65 dan variannya dengan cepat menjadi populer, menjawab tantangan buruknya propagasi dengan kemampuan membaca sinyal hingga -27 dB dibawah level noise.

Namun demikian orang mulai mengeluhkan transmisi JT65 karena dianggap memakan waktu cukup lama. Dalam satu kali transmisi membutuhkan waktu 45 detik plus spasi 15 detik, sehingga untuk satu sesi QSO memakan waktu sekurangnya 3-5 menit (hanya untuk CQ, bertukar callsign, report dan 73).

Kemudian Joe Taylor dibantu oleh Steve Franke K9AN mengembangkan proyek WSJT-X (akhiran X berarti experimental), maka diciptakanlah digimode baru yang dinamai FT8 (diambil dari nama Franke dan Taylor – 8bit FSK). 

Mode ini menawarkan kemampuan QSO lebih cepat yaitu hanya 15 detik per transmisi, atau cukup satu menit untuk satu sesi QSO (meliputi pertukaran callsign, report dan 73). Namun demikian jika dibandingkan JT-65, terjadi penurunan dalam kemampuan pembacaan sinyal lemah sebesar 4dB, yaitu pada -23 dB dibawah level noise… masih sangat layak.

Display JT65

Dengan cepatnya suara seruling bambu FT8 menjadi sangat populer. Bahkan di kalangan operator DX’pedition yang selama ini seakan mengharamkan mode selain CW dan SSB, kini menyerah. Setelah berjam-jam CQ hanya sedikit yang masuk, akhirnya mulai beroperasi menggunakan FT-8.

Display FT8

Di Indonesia sendiri, saat ini FT-8 menjadi begitu populer, padahal selama ini diketahui pengguna komunikasi digital relatif tidak banyak. Kini bermunculan aktivis DX’er baru tingkat siaga, mereka sekarang bisa bicara stasiun-stasiun DX, stasiun langka, bahkan diantaranya mampu mengklaim DXCC-Award dalam waktu beberapa bulan. Tentu saja hal ini membuat iri para amatir pendahulu yang memerlukan waktu hingga bertahun-tahun untuk dapat meraih DXCC.





Sumber tulisan : https://orarilokalbrebes.or.id/2020/10/01/mode-komunikasi-digital-ft8/

Posting Komentar

0 Komentar